Menutup aurat adalah tanggung jawab saya terhadap Allah :)

Minggu, 11 November 2012

Pengukuran Kemiskinan


Konsep kemiskinan menurut Bappenas (2002) adalah suatu situasi dan kondisi yang dialami seseorang atau kelompok orang yang tidak mampu menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi. Kemiskinan adalah kondisi sosial ekonomi seseorang atau sekelompok orang yang tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Masalah kemiskinan merupakan persoalan yang menjadi pusat perhatian pemerintah Indonesia. Pengukuran kemiskinan menjadi instrumen bagi pengambil kebijakan dalam memfokuskan perhatian pada kondisi  hidup orang miskin.
Rumah tangga miskin yakni rumah tangga sebagai disebut BPS, Litbang Kompas, dan Bappenas (Kompas Mei 2008) dengan ciri- ciri sebagai berikut: Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi per orang; Lantai tempat tinggal dari tanah / bambu/ kayu murahan; Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu / rumbia/ kayu berkualitas rendah / tembok tanpa diplester; Tidak memiliki fasilitas buang air / bersama- sama dengan rumah tangga lain; Penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik; Sumber air minum dari sumur/mata air tidak terlindungi/ sungai / air hujan; Bahan bakar untuk rumah tangga berupa kayu/ arang/ minyak tanah; Mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali seminggu; Hanya membeli satu setel pakaian baru dalam setahun; Hanya sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas; Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan lahan garapan kurang dari 0,5 ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan,buruh perkebunan,atau pekerjaan lain dengan pendapatan kurang dari Rp 600 000 per bulan; Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga tidak sekolah /tidak tamat SD; Tidak memiliki tabungan / barang berharga yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp 500 000 sepeda motor dengan kredit, emas, ternak, kapal motor, barang modal lainnya.
Pengukuran kemiskinan yang dilakukan BPS dan Bappenas seperti yang tertulis diatas terdapat kekurangan. Definisi kemiskinan juga mencakup persepsi komunitas tentang apa yang dimaksud sebagai orang miskin. Jadi sejauh mana terpenuhinya kebutuhan dasar akan berbeda-beda tergantung standar komunitas (sangat relatif). Orang yang dianggap miskin di suatu daerah belum tentu dianggap miskin di daerah lain karena standar kehidupan di setiap daerah berbeda-beda. Munculnya kemiskinan dalam suatu masyarakat sangat berbeda, tergantung dari budaya yang hidup pada masyarakat.
Sedangkan pengukuran kemiskinan menurut BKKBN, miskin adalah mereka yang tidak melaksankan agama menurut agamnya; Setiap anggota keluarga tidak mampu makan 2x sehari; Setiap anggota keluarga tidak memiliki pakaian berbeda untuk dirumah, bekerja/sekolah dan bepergian; Bagian terluas dari rumahnya berlantai tanah; Tidak mampu membawa anggota keluarga ke sarana kesehatan. Terdapat kekurangan pengukuran kemiskinan yang dilakukan BKKBN. Menurut saya, mereka yang tidak melaksanakan agama menurut agamanya belum tentu tergolong ke dalam orang miskin. Di dalam kenyataan nya, banyak orang-orang kaya yang bersikap demikian. Orang-orang kaya adalah orang yang mempunyai rutinitas yang tinggi dan sangat sibuk sehingga saking sibuknya, dia mengabaikan agamanya sendiri dan tidak melaksanakan agamanya dengan baik. Meskipun dia tidak melaksanakan agama menurut agamanya, dia bukanlah orang miskin.
Dalam pengukuran kemiskinan, Bank Dunia memfokuskan aspek pengukuran kemisknan, yaitu pada kemiskinan itu sendiri, yang didefinisikan sebagai ketidakcukupan sumberdaya rumah tangga/ individu atau ketidaksanggupan dalam memenuhi kebutuhan hari ini. Menurut perhitungan World Bank bahwa kemiskinan parah apabila hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 1 per hari dan kemiskinan sedang apabila hidup dengan penghasilan US$ 2 per hari. Pengukuran kemiskinan yang dilakukan World Bank dalam hal ini terdapat kekurangan. Hidup dalam kemiskinan bukan hanya hidup dalam kekurangan uang dan tingkat penghasilan rendah tetapi juga banyak hal lain, seperti tingkat kesehatan, pendidikan rendah, perlakuan tidak adil dalam hukum, kerentanan terhadap ancaman tindak kriminanl, ketidakberdayaan menghadapi kekuasaan, dan ketidakberdayaan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri.

Referensi:
Badan Pusat Statistik http://www.bps.go.id/menutab.php?kat=1&tabel=1&id_subyek=23 (diakses tanggal 25 Sepetember 2012)
Materi Kuliah Pengukuran Kemiskinan oleh Fentiny Nugroho, PhD


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar